Social Network Analysis (SNA)
Apakah Anda menngerti gambar apakah di
samping? Mungkin ada sebagian orang yang paham dan sebagian yang tidak.
Awalnya saya juga bingung sebenarnya apa sih maksud dari gambar tersebut
yang hanya berisi garis-garis dan menghubungkan satu nama dengan nama
lainnya. Alhamdulillah bertemu dengan materi tersebut di Kapita Selekta
CIO MTI UGM, yang disampaikan oleh Bapak Lukito Edi Nugroho. Ternyata
gambar tersebut bukanlah hanya sekedar garis dan nama saja, tetapi
memiliki arti. Lalu, apa sih yang sebenarnya ingin diinformasikan dalam
gambar tersebut?
Social network secara singkat
menggambarkan bagaimana hubungan dan interaksi berjalan antara individu
di organisasi ataupun perusahaan. Interaksi tersebut dapat menjadi
berbeda tergantung bagaimana kita memandangnya dan hasil yang ingin
didapatkan. Contohnya ialah social network yang diterapkan di kantor , kampus dan kehidupan pribadi kita.
Social Network Analysis atau sering disingkat SNA memiliki beberapa
definisi, Krebs mendifinisikan bahwa SNA adalah proses pemetaan dan
pengukuran relasi antara orang ke orang, sedangkan Freeman mendefiniskan sebagai teknik yang fokus mempelajari pola interaksi pada
manusia yang tidak terbongkar. Scott mendefinisikan sebagai
sekumpulan metode untuk menginvestigasi aspek relasi pada struktur
sosial. Berdasarkan ketiga definisi yang telah ada tersebut, sebenarnya
secara garis besar memiliki kesamaan makna, yaitu mengarah pada proses
analisis jaringan sosial berkaitan dengan bentuk struktur dan pola
interaksi entitas di dalamnya.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa SNA lebih menekankan pada interaksi antar entitas didalamnya daripada entitas itu sendiri, dengan kata lain SNA lebih banyak membahas hubungan antar aktor daripada atribut aktor tersebut. Pola interaksi antar entitas akan memberikan informasi baru. Namun bukan berarti entitas tidak ada gunanya sama sekali. Attibut pada entitas yang menjadi node pada graf memiliki informasi yang dapat membantu peneliti untuk membuat hipotesa atas fenomena yang terjadi. Sebagai contoh pada kasus jejaring sosial online di twitter,memang yang lebih banyak dianalisis adalah interaksi antar user twitter, dalam hal ini pola interaksi akan dapan menentukan user mana yang paling berpengaruh dalam suatu lingkup grup tertentu. Namun setelah diketahui user mana yang paling berpengaruh,kemudian tidak akan dapat dianalisis lebih lanjut mengapa user tersebut bisa mendapatkan posisi tersebut, jika tidak diketahui profil user tersebut, siapa dia di dunia nyata, apa jabatannya, dan lain sebagainya. Sejauh ini dapat dikatakan bahwa interaksi antara entitas yang membentuk relasi hanya akan dapat menyimpulkan informasi sampai pada level graf saja, namun untuk sampai bisa berguna lebih lanjut di dunia nyata, perlu diketahui pula informasi tentang node itu sendiri.
Namun begitu, tetap saja SNA yang berada pada level graf lebih cenderung menganalisis struktur dan pola interaksi antar entitas. Freeman menyampaikan bahwa pola interasi manusia merupakan suatu aspek yang penting bagi kehidupan manusia yang terlibat didalamnya. Interaksi tersebut dalam SNA akan menjawab berbagai persoalan antara lain mengukur bagaimana individu terkoneksi dengan yang lain, bagaimana seseorang akan mempengaruhi relasi antar orang lain dan juga mengukur bagaimana individu-individu dalam satu grup saling terhubung dan berintraksi.
Dari satu objek, kita bisa mendapatkan banyak sekali jenis social network. Social network di pekerjaan misalnya. Bentuk social network yang dihasilkan karena kebutuhan penyelesaian pekerjaan akan berbeda dengan social network yang dihasilkan dari penyebaran berita atau gossip. Perbedaaan ini terjadi karena alasan sederhana. Kita cenderung memilih dengan siapa akan berinteraksi. Rekan kerja yang kita butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan bisa saja berbeda dengan rekan kerja yang kita anggap sahabat dan nyaman untuk bercerita. Begitupun ketika kita ingin bertanya hal teknis, diskusi ide, menyelesaikan tugas yang tertentu atau sharing pengetahuan. Kita, suka atau tidak suka, telah mengidentifikasi dan memilih dengan siapa akan berinteraksi dan untuk urusan apa. Sedikit menyebalkan memang, tetapi itulah nature manusia modern.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa SNA lebih menekankan pada interaksi antar entitas didalamnya daripada entitas itu sendiri, dengan kata lain SNA lebih banyak membahas hubungan antar aktor daripada atribut aktor tersebut. Pola interaksi antar entitas akan memberikan informasi baru. Namun bukan berarti entitas tidak ada gunanya sama sekali. Attibut pada entitas yang menjadi node pada graf memiliki informasi yang dapat membantu peneliti untuk membuat hipotesa atas fenomena yang terjadi. Sebagai contoh pada kasus jejaring sosial online di twitter,memang yang lebih banyak dianalisis adalah interaksi antar user twitter, dalam hal ini pola interaksi akan dapan menentukan user mana yang paling berpengaruh dalam suatu lingkup grup tertentu. Namun setelah diketahui user mana yang paling berpengaruh,kemudian tidak akan dapat dianalisis lebih lanjut mengapa user tersebut bisa mendapatkan posisi tersebut, jika tidak diketahui profil user tersebut, siapa dia di dunia nyata, apa jabatannya, dan lain sebagainya. Sejauh ini dapat dikatakan bahwa interaksi antara entitas yang membentuk relasi hanya akan dapat menyimpulkan informasi sampai pada level graf saja, namun untuk sampai bisa berguna lebih lanjut di dunia nyata, perlu diketahui pula informasi tentang node itu sendiri.
Namun begitu, tetap saja SNA yang berada pada level graf lebih cenderung menganalisis struktur dan pola interaksi antar entitas. Freeman menyampaikan bahwa pola interasi manusia merupakan suatu aspek yang penting bagi kehidupan manusia yang terlibat didalamnya. Interaksi tersebut dalam SNA akan menjawab berbagai persoalan antara lain mengukur bagaimana individu terkoneksi dengan yang lain, bagaimana seseorang akan mempengaruhi relasi antar orang lain dan juga mengukur bagaimana individu-individu dalam satu grup saling terhubung dan berintraksi.
Dari satu objek, kita bisa mendapatkan banyak sekali jenis social network. Social network di pekerjaan misalnya. Bentuk social network yang dihasilkan karena kebutuhan penyelesaian pekerjaan akan berbeda dengan social network yang dihasilkan dari penyebaran berita atau gossip. Perbedaaan ini terjadi karena alasan sederhana. Kita cenderung memilih dengan siapa akan berinteraksi. Rekan kerja yang kita butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan bisa saja berbeda dengan rekan kerja yang kita anggap sahabat dan nyaman untuk bercerita. Begitupun ketika kita ingin bertanya hal teknis, diskusi ide, menyelesaikan tugas yang tertentu atau sharing pengetahuan. Kita, suka atau tidak suka, telah mengidentifikasi dan memilih dengan siapa akan berinteraksi dan untuk urusan apa. Sedikit menyebalkan memang, tetapi itulah nature manusia modern.
Sifat itulah yang mendasari Google membuat fitur Circle dalam aplikasi social medianya,
Google Plus. Google sadar bahwa kita tidak ingin status “galau” yang
kita tuliskan dibaca oleh bos atau klien. Begitupun kita tidak ingin
posting motivasi atau terkait pekerjaan dikotori oleh beberapa teman
yang tidak bisa menempatkan kata-kata pada tempatnya. Ya, walaupun tidak
banyak dari kita yang menggunakan social media sebagai media branding personal tetapi tetap ada beberapa orang yang menggunakan social media sebagai tempat berkumpul dengan komunitas professional. LinkedIn contohnya. Social media ini
lebih banyak ditujukan untuk professional atau entrepreneur yang hendak
meluaskan jaringan pekerjaan dan peningkatan kompetensi. Contoh lainnya
ialah beberapa perusahaan (korporasi atau personal) yang menggunakan
Facebook sebagai media berhubungan dengan klien dan customer nya.
Hal yang tidak jauh berbeda juga
terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang kita menghindari
berbicara terkait pekerjaan atau topik tertentu dengan beberapa orang.
Entah karena perbedaan kebutuhan atau sekedar melupakan kerumitan dengan
berdiskusi topik yang lebih ringan. Kita tidak berdiskusi bagaimana maintain client dengan
pasangan atau berdiskusi tentang sepeda di komunitas motor. Kita
melakukan ini. Sadar atau tidak. Suka atau tidak. Ini adalah hasil dari
keteraturan dan keterbukaan informasi yang terkadang membuat kita
berkumpul dengan individu yang memiliki kesukaan berbeda-beda.
Fakta yang menarik ialah ternyata dalam social network yang
berbeda-beda tersebut sebenarnya ada pengetahuan, kesempatan, potensi
dan kekuatan yang terkadang tidak kita sadari. Contoh nyata terjadi
pada perusahaan sekelas Sempra Energy yang memiliki revenue mencapai 12 milyar USD. Pada satu titik, penjualan mereka menurun dan divisi marketing disalahkan karena tidak tercapainya target. Manajemen pun memutuskan pendekatan social network analysis sebagai salah satu alat untuk mengidentifikasi masalah. Mereka menemukan bahwa ternyata marketing yang selalu berhubungan dengan pelanggan kurang mampu memberikan penjelasan teknis dan problem solving yang dibutuhkan sehingga solusi pun tidak tepat dan pelanggan mulai berpindah. Marketing sebagai front liner diketahui terpisah dari para researcher dan programmer, pihak yang mengerti kebutuhan pelanggan dan solusinya secara menyeluruh. Hasil analisis juga memperlihatkan bahwa researcher dan programmer sebagian besar terpisah dari social network untuk
penyelesaian pekerjaan. Jika ada, hanya beberapa orang dengan jabatan
tinggi yang terus menerus diakses oleh marketing dan divisi lainnya
sehingga terjadi penyumbatan (bottleneck) informasi. Sebagai
sebuah perusahaan yang menekankan pada solusi, hal ini adalah masalah
besar. Manajemen pun melakukan beberapa langkah strategis diantaranya
menguatkan kolaborasi antara marketing dan researcher serta programmer. Hasilnya, revenue kembali meningkat dan isolasi atas researcher dan programmer menurun.
Network dalam Perspektif Social Network Analysis
Bagaimana cara memanfaatkan network ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kita sebaiknya mengetahui komponen network dalam social network analysis.
Network didefinisikan sebagai sekumpulan actor/nodes yang dihubungkan oleh ties/links. Actor/nodes adalah kita, individu yang terlibat dalam sebuah network dan ties/links adalah hubungan dan interaksi yang terjadi antara kita dengan individu lainnya dalam sebuah network (jaringan). Nodes juga
dapat berupa departemen, stakeholder (customer, regulator, vendor),
atau organisasi lain. Tergantung bagaimana kita hendak melakukan
analisis. Ties (hubungan) juga berbeda-beda tergantung tujuan
dan kebutuhan. Bisa berupa tugas, saran, keahlian, informasi strategis,
prosedur, hingga kedekatan emosional (pertemanan atau percintaan).
Social Network Analysis (SNA) berpendapat bahwa hubungan antar nodes sesuatu yang penting. Fokus SNA untuk mengetahui actor/nodes yang
terlibat dan bagaimana hubungan terjadi. Dengan siapa actor terhubung,
seberapa kuat hubungan terjadi, seperti apa hubungan terjadi, apakah
hubungan terjadi satu arah atau dua arah, bagamana hubungan
difasilitasi, melalui media apa hubungan terjadi hingga ke aplikasi
lainnya seperti siapa yang memiliki hubungan (ties) paling banyak, siapa yang terisolasi dalam networks, bagaimana jarak (gap) dan rentang (length) antar masing-masing nodes, dimana terjadi bottleneck, siapa yang menjadi key player dan sebagainya.
Yang menarik dari SNA ialah kemampuannya menterjemahkan network dan
dinamika didalamnya menjadi bentuk yang terukur dan dapat dipertanggung
jawabkan.Hal tersebut karena ilmu dasar SNA adalah statistika. Jacob
Levy Moreno pada awal tahun 1930 tercatat sebagai praktisi yang pertama
kali menggunakan istilahsocial network analysis dalam papernya.
Pada awalnya SNA adalah kumpulan data statistika yang diolah sedemikian
rupa sehingga terlihat hubungan antara satu data dan lainnya. Kemudian
berkembang menjadi cabang ilmu statistika baru yang disebut sebagai sociology statistic.
Cabang ilmu yang tidak hanya mengedepankan data sebagai acuan tetapi
menggunakan ilmu-ilmu social, khususnya psikologi dan sosiologi untuk
melihat kaitan dan menginterpretasikan data tersebut.
Kemampuan SNA dalam memberikan bukti
konkrit ini yang kemudian menarik banyak pihak untuk menggunakannya
secara luas. Fleksibilitas SNA dalam menganalisis bentuk hubungan
membuat aplikasi SNA digunakan tidak hanya di organisasi yang mencintai
data seperti bisnis, tetapi juga pada dunia militer, kepolisian,
pendidikan, counter terrorism, bahkan politik.
Data dasar SNA sebagian besar didapatkan dari hasil survey terhadap anggota network.
Pertanyaan yang diberikan didesain untuk mengetahui bagaimana hubungan
terjadi, dengan siapa hubungan dilakukan, seberapa besar kekuatan
hubungan antara nodes/actor, hingga media yang digunakan. Aspek
lainnya dapat digunakan tergantung kepada bagaimana hasil akhir yang
ingin diketahui seperti bagaimana hubungan terjadi dalam penyebaran
berita, penciptaan inovasi, penyelesaian pekerjaan, diskusi peningkatan
kompetensi dan lainnya. Hasil survey kemudian dianalisis menggunakan tools dan perhitungan matematika. Tenang saja, tools yang ada tersedia gratis dan memiliki komunitas yang selalu siap membantu jika kita menemukan masalah. Saya akan membahas tools ini di lain kesempatan ya, insya allah..
Social Network Analysis (SNA) Diagrams
Dalam menentukan individu (node) yang paling penting, berperan dan
berpengaruh di dalam jaringan, kita bisa menggunakan analisis SNA ini
untuk mengukur hal tersebut. Pengukuran tersebut digambarkan dalam
diagaram sebagai berikut :
1. Degree centrality: jumlah koneksi yang dimiliki sebuah node.
2. Closeness centrality: jarak rata-rata antara
node dengan semua node yang lain di jaringan. Ukuran ini menggambarkan
kedekatan node ini dengan node lain. Semakin dekat, semakin terhubung
orang tersebut dengan lainnya. Analoginya adalah tipe orang “gaul”
yang kenal dengan semua orang akan memiliki pengaruh yang lebih besar
karena dapat menyebarkan informasi lebih cepat tanpa perlu perantara
pihak ketiga. Untuk mengukur jarak terpendek antar node dapat digunakan
algoritma Dijkstra.
3.Betweenness centrality: ukuran ini
memperlihatkan peran sebuah node menjadi bottleneck. Node menjadi
penting jika menjadi communication bottleneck. Analoginya, anggap
persimpangan sebagai node. Semakin banyak jalan yang harus melewati
persimpangan itu (misal tidak ada jalan alternatif), maka semakin
penting arti persimpangan tersebut. Jika pada persimpangan tersebut
lampu lalulintas mati, maka dapat berakibat fatal karena aliran mobil
(informasi) akan terhambat. Ukuran ini juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi boundary spanners, yaitu orang atau
node yang berperan sebagai penghubung (jembatan) antara dua komunitas.
Betweenness centrality sebuah node dihitung dengan menjumlahkan semua
shortest path yang mengandung node tersebut.
4.Eigenvector centrality: ukuran ini memberikan
bobot yang lebih tinggi pada node yang terhubung dengan node yang juga
memiliki keterhubungan tinggi. Dapat dikatakan versi rekursif dari
degree centrality.
5.PageRank: Ukuran ini digunakan Google untuk
menentukan kualitas suatu page. Dapat digunakan untuk jaringan yang
berbentuk graph berarah. Prinsip yang digunakan adalah semakin penting
sebuah node, maka semakin banyak node tersebut direfer oleh node lain.
Contohnya, situs seperti kompas.com punya peringkat yang tinggi karena
banyak direfer di page lain. Dan misalkan blog ini direfer oleh
kompas.com, maka peringkat blog ini juga akan naik.
Sumber :
1. Kapita Selekta CIO MTI UGM, http://www.docstoc.com/docs/128946474/Social-Network_2_
2. Diagram SNA, http://fmsasg.com/fmsasg/SocialNetworkAnalysis/







0 komentar: